Lawatan Sejarah: Situs Bale Kambang dan Monumen Perjuangan Rakyat Batang

Situs Balikembang Desa Sidorejo Kec. Grinsing berupa Balai tampungan air zaman Hindu Mataram Kuno pada abad ke 7.

Batang - Kabupaten Batang memiliki sejarah peradaban maupun perjuangan kemerdekaan. Hal ini  ditandai dengan situs maupun monumen perjuangan yang belum banyak diketahui khalayak.

Melalui kegiatan Lawatan Sejarah yang dilaksanakan Dinas Pendidikan dan Kebudayan diharapkan bisa memberikan wawasan tentang simbol sejarah bagi masyarakat Batang umumnya.

“Jadi ada situs dan monumen sejarah yang mengandung cerita peradaban pada zaman Hindu dan Budha serta sejarah perjuangan yang pernah ada, Ini harus diketahui masyarakat, proses dan sejarahnya,” jelas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan  Rahmat Nurul Fadilah melalui Serkertarisnya Darsono saat mengunjungi Monumen perjuangan rakyat Tulis, Selasa (11/02).

Ditambahkan Darsono, perlu ada pelestarian sejarah untuk generasi muda agar tahu dan mengerti peradaban maupun sejarah perjuangan kemerdekaan. Sehingga dengan lawatan sejarah ini dapat menambah semangat dan membentuk karakter pemuda sebagai bangsa pejuang yang tak kenal lelah.

“Muncul rasa ingin mengetahui sejarah pada anak–anak dan menghargai jasa pahlawan pejuang kemerdekaan. Akan tumbuh karakter, dan kebanggaan terhadap bangsa,” tambah Darsono.

Menindaklanjuti kegiatan lawatan sejarah  tersebut, Darsono mengatakan, kegiatan ini merupakan agenda tahunan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Tujuannya adalah agar situs – situs sejarah Batang dapat lebih dikenal masyarakat umum.

"Ini merupakan salah satu upaya dalam pembentukan karakter anak  dalam mengenal sejarah Batang. Dan perlu juga disiapkan panduan terkait situs sejarah yang ada," kata Darsono.

Sementara Kepala Bidang Kebudayaan Kustantinah menjelaskan, kegiatan Lawatan sejarah diikuti 40 peserta  dari siswa SMP beserta guru pendamping. Mereka melihat secara langsung simbol sejarah yang telah dibuat, seperti Monumen Pemerintah Daerah, Monumen Perjuangan Rakyat Tulis, Situs Bale Kembang dan Situs Sojomerto.

“Kita juga siapkan buku–buku yang ada kaitannya dengan sejarah. Karena ini jelas akan membantu dalam pembentukan karakter penerus bangsa, selain itu juga ada narasumber dari MSI (Masyarakat  Sejarah Indoneia,) Mulyono Yaman dan Nurohim  yang ikut menjelaskan sejarah dari monument maupun situs,” tambah Kustantinah.

Peserta lawatan sejarah setelah melakukan kunjungan akan diberikan tugas membuat laporan yang langsung dipandu oleh guru pendamping. Bentuknya adalah rangkuman sejarah  situs dan monumen yang dikunjunginya.dan harus dikumpulkan selambat-lambatnya 7 hari setelah kegiatan ini berlangsung.

Bagikan ke Jejaring Sosial