Bupati Resmikan Kampung Batik Tiga Negeri

Written by Bagian Humas dan Protokol on . Posted in berita

Foto : Bupati Yoyok Riyo Sudibyo menandatangani prasasti peresmian Kampung Batik Tiga Negeri. (humas)

(Batangkab.go.id) Bupati Batang, Yoyok Riyo Sudibyo, Selasa (2/4/2013) meresmikan Desa Kalipucang Wetan sebagai Kampung Batik Tulis Tiga Negeri. Bupati Yoyok Riyo Sudibyo mengatakan batik tulis Tiga Negeri merupakan batik yang cukup tua, karena menurut sejarah dan para pakar batik yang disertai dengan bukti–bukti yang ada menunjukkan bahwa batik tulis Batang lebih tua dibandingkan dengan Pekalongan.  Oleh karena itu Bupati berusaha membangkitkannya kembali melalui kampung batik. Menurut Bupati, untuk membangkitkan batik yang ada di Kabupaten Batang harus ada terobosan dan kerja sama antar pemerintah dan masyarakat, dengan cara membentuk pusat–pusat batik yang menjadi suatu ciri dan khas batik. “Dan melalui peresmian Kampoeng Batik Tiga Negeri ini akan mempermudah dan menarik para pemburu batik tulis untuk datang dan berinvestasi,” terangnya.

Dengan membangkitkan lagi batik diharapkan dapat meregenerasi semangat untuk membatik, karena batik merupakan budaya yang harus dilestarikan dan pemerintah daerah mempunyai komitmen untuk melestarikanya. Pemkab. Batang juga membantu dalam pemasarannya dengan bekerja sama dengan pihak luar negeri agar batik Batang bisa lebih mendunia. Selain itu, Bupati berjanji akan membantu Batik Tiga Negeri dalam pengurusan hak paten, agar tidak diakui oleh daerah lain atau negara lain.

Miftakhutin, Ketua Kelompok Perajin Batik Tulis Kalipucang Wetan mengatakan masyarakat luas belum banyak yang tahu, bahwa masyarakat Islam Rifaiyah Desa Kalipucang Wetan Kecamatan Batang memiliki batik yang begitu khas, yang oleh para pemburu batik di namakan Batik Tiga Negeri.

Kalau dilihat sepintas batik tiga negeri kurang menarik karena gambar–gambar yang ditorehkan kaku. Namun jika mengetahui makna dari gambar tersebut, menjadi daya tarik tersendiri karena dalam gambar batik itu mengingatkan manusia untuk selalu menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah.

Produk batik tiga negeri meliputi batik motif Peloati, Kawung Dolar, Materos, Romo Gendong, Tambal, Kotak Kitir, Gendhakan, Nyah Pratin, Banji, dan Lancur Gemblong Sak Iris. Adapun harga batik terendah adalah Rp.150 ribu untuk kasar dengan proses pembuatan selama 2 minggu jadi. Sedangkan batik tulis halus sekitar Rp. 3 juta, dengan  proses pembuatan mencapai 4 minggu.Jelasnya.

Seorang pakar batik tiga negeri dari desa setempat, Abusari mengisahkan asal muasal batik tiga negeri di desanya. Abusari mengatakan batik masuk di Batang pada tahun 1637. Sedangkan batik Rifaiyah masuk pada tahun 1850. Proses pembuatan batik tiga negeri dulu sangat unik. Proses pewarnaan dilakukan di tiga daerah atau kalau zaman dahulu dikatakan tiga negeri, yang merupakan cerminan daerah masing–masing, dengan warna pokok biru dari Batang, merah dari daerah Lasem dan sogan dari Jogjakarta. (Muslihun_humas)