TANAH DILINTASI JARINGAN TRANSMISI ROW, WARGA DAPAT KOMPENSASI

Written by Bagian Humas dan Protokol on . Posted in berita

Foto : Sosialisasi Jaringan Transmisi ROW. (humas)

(Batangkab.go.id) – Rabu, tanggal 17 April tahun 2013 bertempat di Perkebunan Dinas Pertanian Provinsi Jawa Tengah, di Desa Simbangjati, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang, telah dilaksanakan Sosialisasi Jaringan Transmisi ROW (Right of Way) dalam rangka Penjelasan Rencana Pembangunan Jaringan Transmisi sebagai fasilitas pendukung  Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan kapasitas 2 x 1000 MW di Kabupaten Batang. Sosdalisasi dihadiri perwakilan PT Bhimasena Power Indonesia (BPI) selaku pemrakarsa, stakeholder terkait yaitu PT PLN (Persero)  serta perwakilan masyarakat Desa Wonokerso, Kenconorejo dan Beji Kecamatan Tulis.

Ari Wibowo CR dan External Relation PT. BPI menjelaskan untuk jalur tranmisi PLTU akan melintasi Desa Wonokerso, Kenconorejo, Beji, Wringin Gintung, Karanggeneng, Semboja, dan Simbangjati, di mana desa-desa tersebut berada di Kecamatan Tulis dan Kandeman.

Mekanisme dari pelaksanaan jalur tranmisi tersebut akan dilaksanakan sesuai dengan perundang – undangan yang berlaku, yaitu mengacu pada Undang – undang no. 30 2009 tentang Ketenagalistrikan, Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi no. 01.P/47/MPE/1992 tentang Ruang Bebas Saluran Udara Tegangan Tinggi ( SUTT ) dan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi( SUTET ) untuk penyaluran tenaga listrik, Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi NO. 975 K/47/MPE/1999 tentang Perubahan Peraturan Menteri Pertembangan Dan Energi No. 01.P/47/M/PE/1992  tentang Ruang Bebas SUTT dan SUTET. Berdasarkan peraturan tersebut PT. BPI akan memberikan kompensasi yang layak untuk area yang dilintasi oleh jalur tranmisi dengan harga tanah Rp.15.030/m²  yang sudah dikenakan pajak.   Tanah tetap menjadi milik warga dan tanaman juga akan mendapat kompensasi sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Asisten Pemerintahan Sekda, Drs. Budiarto mengatakan sosialisasi tersebut bermaksud untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat desa yang terkena jalur tranmisi atau SUTT dan SUTET. Selain untuk memberikan pemahaman hak-hak yang masih dimiliki masyarakat juga menginformasikan mekanisme kompensasi kepada pemilik lahan. Budi meminta, masyarakat kurang paham dapat menanyakannya pada kesempatan tersebut. “Jangan tanya yang tidak paham sehingga yang didapat hanya menakut-nakuti bahaya SUTET,” kata Budiarto.

Sementara itu, Aji dari PT. BPI menjelaskan hasil dari sosialisasi tersebut yang sudah disetujui oleh peserta sosialisasi yaitu, tanah yang terkena tapak tower akan dibebaskan dan diberikan ganti rugi, tanaman dan bangunan yang berada di proyeksi jalur bebas SUTET dan berpotensi membahayakan SUTET akan dibebaskan dan diberikan kompensasi. Tanah dan bangunan yang berada di proyeksi ruang bebas tetapi di luar tapak tower akan diberikan kompensasi yang besarannya sesuai peraturan. Kompensasi hanya diberikan sebanyak 1 (satu) kali untuk pemilik tanah yang ada sekarang, pemilik tanah baru tidak diberikan kompensasi. Pemilik tanah dan bangunan yang mendapat kompensasi masih dapat memanfaatkan lahan sepanjang tidak akan masuk ke Ruang Bebas.

Objek yang dikompensasi  adalah tanah yang dilewati oleh jalur/saluran transmisi. Sedangkan objek yang mendapatkan ganti adalah berbagai tanaman pangan, hortikultura dan tanaman keras, sesuai peraturan yang berlaku di Pemerintah Kabupaten Batang. Pemilik lahan memberikan ijin kepada BPI untuk melintas