Batang Mantu, 75 Pasangan Ikut Isbat Nikah Massal

isbat Nikah Massal diikuti oleh 75 pasangan, dengan pasangan paling tua berusia 78 tahun di Pendopo Kabupaten Batang, Minggu (15/4).

Pemerintah Kabupaten Batang memberikan kesempatan kepada 75 pasangan suami istri yang bertahun-tahun membina rumah tangga namun belum memperoleh buku nikah dengan menyelenggarakan Isbat Nikah Massal di Pendopo Kabupaten Batang, Minggu (15/4).

Kepala Bagian Kesra Setda Batang Suprapto mengatakan kegiatan Isbat Nikah Massal ini digelar dalam rangka memeriahkan Hari Jadi Kabupaten Batang ke-52. Target awal minimal 100 pasangan, ternyata peminatnya lebih dari 100. Namun dari persyaratan administrasi hanya 82 pasangan yang diikutkan dalam sidang di Pengadilan Agama pada 23 Maret lalu.

“Setelah disidangkan hanya 75 pasangan yang lolos dan mendapatkan buku nikah serta dinyatakan resmi secara administrasi negara,” tutur Suprapto.

Sedangkan lanjutnya, ada 7 pasangan yang belum menyelesaikan proses sidang, jika mereka lolos di proses sidang isbat nikah di Pengadilan Agama memenuhi syarat dan dikabulkan maka akan segera diterbitkan buku nikahnya.

“Dari 75 pasangan ada 1 pasangan dengan usia paling tua bernama Slamet Suono Bin Ramli (78) dan Sri Ati Binti Tasimun (69) warga Desa Pecalungan Kecamatan Pecalungan,” paparnya.

Menurutnya, alhamdulillah penyelenggaraan acara tersebut sukses dan bila dimungkinkan akan diadakan setiap tahunnya, namun yang perlu diperhatikan kegiatan ini adalah suatu bentuk bakti sosial, kerja sama Disdukcapil, Pengadilan Agama dan Bagian Kesra serta Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (Harpi) yang semuanya tidak dipungut biaya.

Lebih lanjut Suprapto menerangkan ke depan akan dilakukan kerjasama antara Kementerian Agama, Pengadilan Agama, Bagian Kesra dan Disdukcapil yang akan memberikan pelayanan satu pintu isbat nikah. Bagi pasangan yang belum mendapatkan buku nikah perlu melalui beberapa proses antara lain harus mempersiapkan bukti atau saksi bahwa pernah terjadi pernikahan, domisili diketahui oleh Ketua RT dengan menunjukkan KTP meskipun statusnya belum menikah dan pas foto.

“Semua persyaratan dibawa ke Kantor KUA untuk dibuatkan surat permohonan penerbitan surat nikah, kemudian mendaftar ke Kantor Kementerian Agama, setelah memenuhi syarat administrasi akan disidang isbatkan di Pengadilan Agama didampingi saksi dari pihak pria dan wanita,“ terangnya.

Suprapto menambahkan jika lulus berarti permohonan akan dicatatkan di buku nikah dan dapat mengubah status administrasi kependudukan.

“Karena kegiatan ini suatu yang baik semestinya masyarakat dan tokoh masyarakat diharapkan membantu mengingatkan bagi pasangan yang membutuhkan buku nikah dan tidak perlu menunggu momen khusus seperti saat ini, tapi bisa menghubungi KUA setempat dan Pemkab siap memfasilitasi,” pungkasnya.

Ngatmin (70) dan Rasmuti (65) salah seorang pasangan yang mengikuti Isbat Nikah Massal mengungkapkan kebahagiaannya karena setelah menikah sejak tahun 1970 akhirnya memperoleh surat nikah dan diakui secara administrasi negara.

“Saya sudah menikah sejak tahun 1970-an dan mempunyai anak 10, terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Batang yang sudah membantu kami untuk mendapatkan buku nikah dan tercatat secara resmi,” tuturnya.

Isbat Nikah Massal dihadiri Bupati Wihaji, Wakil Bupati Suyono dan seluruh Kepala OPD. (Heri/Arga/Mc Batang Jateng)

Catatan : tulisan sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis
Lihat Berita Foto dari Berita ini

Bagikan ke Jejaring Sosial