“Kreweng” Jadi Alat Pembayaran di Minggon Jatinan

Batang - Pasar Minggon Jatinan yang merupakan pasar jajanan tradisional tempo dulu, mengedepankan unsur tradisional dan ramah lingkungan, juga diterapkan pada alat pembayaran yang bernama “kreweng” yang berbahan dasar tanah liat. Tujuan lain digunakannya alat pembayaran ini adalah untuk mengedukasi masyarakat terutama anak-anak, bahwa zaman dulu nenek moyang kita pun menggunakannya sebagai alat bertransaksi jual beli.

Pernyataan ini disampaikan oleh Direktur Madrasah Bisnis, Nur Rohman Assayidi saat membantu warga yang ingin menukarkan mata uang rupiah dengan beberapa kreweng sebagai alat transaksi untuk membeli makanan tradisional di Pasar Minggon Jatinan, Hutan Kota Rajawali Kabupaten Batang, Minggu (15/7).

“Harga satu kreweng jika di rupiahkan sama dengan Rp 2.000,00 (dua ribu rupiah),” tutur Rohman sapaan akrabnya yang sekaligus Event Organizer Minggon Jatinan.

Pada umumnya, lanjutnya, satu keluarga memberikan uang seratus ribu rupiah dan akan mendapat 50 koin kreweng. Nantinya koin kreweng ini menjadi alat transaksi, untuk yang ingin membeli makanan dan minuman tidak diperbolehkan membayar menggunakan rupiah, tapi harus pakai koin.

“Hal ini kami lakukan untuk menjaga dan melestarikan budaya tempo dulu,” ungkapnya.

Lebih lanjut Rohman menerangkan, jika koin yang mereka beli masih tersisa biasanya mereka simpan agar bisa digunakan pekan depan.Yang masih menjadi masalah adalah pengarahannya, seandainya ada pengrajin dari Batang yang menekuni pembuatan kreweng, sungguh luar biasa, karena di sini belum ada.

Rohman berpesan kepada masyarakat Batang, kami ingin mengenalkan bahwa lewat Minggon Jatinan kita bisa menghargai alam. Kami ingin mengajarkan kepada pengunjung tentang pentingnya menggunakan barang-barang yang ramah lingkungan.

“Kami tidak memperbolehkan ada penggunaan plastik dan tidak diperkenankan pengunjung yang merokok di lingkungan Minggon Jatinan,” tegasnya.

Sedangkan, bagi pengunjung yang berasal dari luar Kabupaten Batang, mari belajar bersama tentang bagaimana mengedukasi masyarakat selama kurang lebih 6 jam tanpa styrofoam/bahan yang sering digunakan untuk tempat makanan, tanpa plastik dan bahan baku yang tidak ramah lingkungan.

“Minggon Jatinan kini sudah semakin dikenal tidak hanya dari Kabupaten Batang saja, bahkan dari luar kota seperti Pekalongan, Semarang, Jakarta dan daerah lain,” imbuhnya.

Letaknya sangat strategis yaitu di sisi selatan jalur pantura dan dibuka tiap hari Minggu pagi dari pukul 06.00 – 11.00 wib.

Sementara, Laeli warga Landungsari Kota Pekalongan menuturkan, Minggon Jatinan mengingatkan jajanan tempo dulu sewaktu masa kecil. Penggunaan kreweng sebagai alat pembayaran sangat bagus, karena bisa mendidik anak tentang alat pembayaran zaman dulu.

“Saya sangat senang dengan adanya kreweng ini, karena bisa sekaligus bernostalgia,” ungkapnya.

Laeli berharap Minggon Jatinan ini dapat lebih baik untuk masyarakatnya dan membuat Kabupaten Batang lebih sukses lagi ke depannya. (MC Batang, Jateng/Heri)


Catatan : tulisan sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis

Bagikan ke Jejaring Sosial