Pendokumentasian Patung Dewa Ganesha Terbesar di Asia Tenggara

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Batang melakukan  langkah pendokumentasian terhadap benda cagar budaya berupa arca Dewa Ganesha zaman peradaban Hindu – Budha abad ke-7 masehi. Arca tersebut merupakan yang terbesar se-Asia Tenggara dengan tinggi 1,8 m dan lebar 90 cm berada di Desa Silurah Kecamatan Wonotunggal Kabupaten Batang. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Kabid Kebudayaan Disdikbud Kab.Batang, Kustantinah.

“Arca Dewa Ganesha yang ada di Silurah adalah yang asli karena dibuat pada masa peradaban Hindu – Budha, berbeda dengan arca Dewa Ganesha yang ada di Candi Prambanan hanya replika saja,” tegas Kustantinah Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud di Desa Silurah Kecamatan Wonotunggal Kabupaten Batang, Sabtu (11/11).

Kustantinah mengatakan, Kabupaten Batang merupakan pintu gerbang masuknya agama Hindu melalui daerah Celong hingga Silurah dan akhirnya menuju dataran tinggi Dieng. Tetapi dari semua patung peninggalan, sebagian besar ada di Batang.Sampai saat ini arca Ganesha tersebut masih dikeramatkan oleh penduduk sekitar sebagai tempat peribadatan umat Hindu setempat.

“Bahkan ada umat Hindu dari Thailand sengaja datang ke sana untuk beribadat sekaligus mengagumi kemegahan arca Dewa Ganesha terbesar di Asia Tenggara,”sanjungnya.

Menurutnya, untuk menjaga kelestarian arca Ganesha, Disdikbud menunjuk seorang Juru Kunci bernama Kasim dari Desa Silurah, yang bertugas menjaga dan merawat keberadaan arca Dewa Ganesha serta lingkungan sekitarnya.

“Sengaja kami mengundang peserta didik tingkat SMP/MTs. karena memang sekarang kewenangan Disdikbud hanya sampai SMP/MTs.saja.Rata -rata para siswa dan guru merasa senang karena dapat belajar meneliti langsung tentang keberadaan arca Dewa Ganesha,” lanjutnya.

Kustantinah mengharapkan agar jalan utama menuju kawasan arca Dewa Ganesha diperbaiki sebagai obyek wisata, selain itu untuk mempermudah siswa dan LSM dalam melakukan penelitian.

Di sisi lain, ada hal menarik seputar benda pusaka  yang sayang untuk dilewatkan. Sampai saat ini sudah ada 54 tombak, 1 pedang dan 1 keris tersimpan rapi di Disdikbud, bahkan hingga kini ada yang masih “aktif”.

“Di antara seluruh benda pusaka, ada 1 pusaka yang masih “aktif” dengan penunggu di dalamnya, sehingga harus dilakukan penjamasan/dimandikan air kembang setiap Jum’at pagi oleh orang khusus yang telah kami tunjuk,” pungkasnya.

Sementara itu, Ahmad Saiful Muluk guru MTs. NU 2 Batang mengatakan benda cagar budaya yang ada di Kabupaten Batang khususnya arca Dewa Ganesha di Desa Silurah harus bisa dijaga dan dilestarikan. Hal ini merupakan kesempatan yang baik untuk memberikan pelajaran sejarah peninggalan zaman Hindu – Budha kepada peserta didik.

Untuk menuju situs arca Dewa Ganeshamelewati hutan belantara yang masih alami,namun masih mengalami kesulitan karena medan yang sangat curam.

“Para siswa harus bisa menjaga karena ini merupakan aset berharga karena bisa menjaga media belajar kita semua, sedangkan bagi Pemkab Batang karena arca Ganesha merupakan benda bersejarah yang memiliki perjalanan panjang, alangkah baiknya jika akses jalan menuju situs tersebut diperbaiki,” harapnya.

Nada dukungan pun diberikan Jihan Mahdiana siswa kelas IX MTs. NU 2 Batang menurutnya, harus dilakukan perlindungan terhadap benda cagar budaya peninggalan masa Hindu  - Budha abad ke-7 seperti yoni dan punden berundak. (Heri/MC)

Catatan : tulisan sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis

Bagikan ke Jejaring Sosial