Gethuk Bokong Bawang Digemari Masyarakat

Kalau untuk mendengar namanya mungkin terlalu jorok untuk jenis makanan, namun itu benar terjadi pada makanan Gethuk bokong atau dalam bahasa Indonesia yaitu memiliki arti getuk pantat. Kuliner makanan rakyat lereng gunung prahu Desa Wonosari Kecamatan Bawang memiliki keanehan namanya dan keunikan dalam proses pembuatannya.

Pasangan suami istri Sunaryo (51) dan Ponirah ( 41 ) sudah hampir puluhan tahun membuat makanan khas tradisional, pasutri tersebut mengikuti jejak nenek moyangnya yang mewariskan resepnya sehingga secara turun temurun membuat gethuk bokong.

Makanan dengan bahan dasar singkong tersebut cukup memakan waktu dan energi dalam proses pembuatannya, pasalnya singkong harus dikupas kulitnya dan dicuci dengan bersih lalu diparut atau duhaluskan dengan cara di giling, setelah itu airnya dibuang dengan cara diperas sampai benar - benar kadar airnya berkurang.

Setelah itu baru singkong yang sudah halus dan kering di rebus selama lima belas menit, untuk getuk goreng yang berwarna coklat saat direbus adonanya diberi garam secukupnya dan gula aren, Kalau yang warna putih hanya di kasih garam saja.

Tidak berhenti disitu saja dalam proser pembuatannya karena masih harus ditumbuk agar tidak menggumpal dan untuk meratakan rasa manisnya serta garamnya, lalu baru proses pencetakan menjadi gethuk bokong dengan menggunkan alat cetak baskom.

Sunaryo pembuat gethok mengatakan, untuk sebenarnya makanan gethuk ini dinamakan gerhuk gaplek, tetapi banyak orang di luar desa menamakan gethuk bokong karena bentuknya menyerupai bokong atau pantat. " banyak masyarakat yang menamakan gethul bokong, karena mungkin bentuknya yang menyerupai bokong." Katanya

Gethuk dengan diameter 25cm yang memiliki ketebalan 3 cm biasa di jual di pasar - pasar Kecamatan, sampai ke pasar Dieng Kabupaten Banjaregara dengan di patok harga limaribu sampau dengan duabelas rubu rupiah saja. " kita biasa jual ke pasar Bawang dan pasar Dieng Kabupaten Banjarnegara dan Alhamdulillah laris manis habis terjual." Kata Sunaryo

Ia juga berharap kepada pemerintah untuk mendapatkan bantuan berupa mesin dan modal usaha, karena merasa kesulitan dalam membesarkan usahanya ketika harus berproduksi dengan jumlah banyak. " kami inginkan bantuan mesin dan modal usaha agar bisa membikin gethuk banyak dan kami juga butuh tungku banyak untuk memasak." Pinta Sunaryo dirumahnya yang sangat sederhana sekali.

Camat Bawang Yarsono mengatakan kuliner makanan gethuk gaplek menjadai makanan khas Bawang yang nama populernya gethuk bokong yang di jual di pasar-pasar tapi hanya di hari - hari pasaran. "Untuk nama sebenarnya gethuk gaplek tapi lebih populer gethuk bokong yang di jual dipasar di hari tertentu atau hari pasaran paing dan wage." Kata Yarsono

Kepala Bagian Humas Batang Triossy Juniarto mengatakan, Pemerintah Kabupaten Batang sedang mempersiapkan tahun kunjungan wisata 2022 atau visit to Batang 2022 dengan tag line Heaven of Asia, sehingga kita akan menginventarisir makanan khas atau kuliner dan pariwisatanya serta ekonomi kreatif lainya untuk bersama kita kembangkan." untuk kuliner makanan khas gethuk bokong kita akan inventarisasi dan melalu dinas terkait akan di berikan pembinaan agar dapat dikemas dengan baik dan dapat disajikan untuk oleh - oleh khas Bawang." katanya 

Untuk makanan gethuk bokong mempunyai keunikan tersendiri dari proses pembuatannya hingga pemasarannya yang menggunakan marketing hitung - hitingan orang Jawa, sehingga rasanya manis, gurih, sangat lembut dilidah dan enak. " gethuk akan terasa lezat sekali bila di sajikan dengan kopi atau teh, mau waktu pagi siang maupun malam rasanya enake por." Kata Triossy Juniarto. (Edo/Humas/McBatang)
Catatan : tulisan sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis

Bagikan ke Jejaring Sosial